partner

partner

Moeldoko Mengapresiasi Peran Nahdlatul Wathan dalam Membangun Semangat Cinta Agama dan Cinta Tanah Air



Anjani, Lombok Timur, 24 Juni 2018, radarindonesia.com
Di tengah gejala munculnya aliran-aliran keras dan radikal, pandangan keagamaan yang menyimpang, sikap keagamaan yang membenturkan nilai-nilai agama dan eksistensi negara, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko memuji kiprah Nahdlatul Wathan yang telah mendidik santrinya dalam membangun pemahaman Islam berkebangsaan, santri yang mencintai agama dan sekaligus mencintai tanah airnya.

“Pemerintah memiliki harapan yang tinggi pada Ma’had ini. NW telah ikut mengawal bangsa ini menjadi bangsa yang stabil, menjadi bangsa yang besar. Perjuangan ini langsung dikawal oleh para santri yang memiliki ideologi dan wawasan kebangsaan yang tinggi,” ujar Moeldoko dalam sambutan peringatan Adz-Zikrol Hauliyyah ke-53 Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits Al-Majidiyyah A-Syafiiyah Nahdlatul Wathan (MDQH-NW) di Anjani, Lombok Timur, Minggu, 24 Juni 2018.

Mantan Panglima TNI tersebut kemudian menceritakan beberapa prestasi dan pemikiran pendiri Nahdlatul Wathan Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang oleh Presiden Joko Widodo telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional. Salah satunya adalah pendirian kampus perguruan tinggi MDQH NW ini.

MDQH NW adalah salah satu perguruan tinggi Islam tertua dan terbesar di NTB. Didirikan tahun 1965 hampir bersamaan dengan terjadinya gerakan 30 September PKI. Hal ini, menurut Moeldoko, menandai kebangkitan Islam kebangsaan. ”Juga dapat dimaknai, bagaimana peran Islam menjadi perekat persatuan dan kesatuan serta kebangsaan Indonesia,” tambah mantan Pangdam Siliwangi tersebut.

Pimpinan Ma'hàd atau yang disebut Amid pertama adalah pendirinya yakni TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (wafat dalam Usia 98 tahun). Saat ini Amid dijabat Tuan Guru Bajang Zainuddin Atsani, nama lengkapnya Raden Tuan Guru Kiai H. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani. Di bawah kepemimpinan beliau, Ma'hàd berkembang pesat dan menjadi rujukan model kaderisasi ulama muda di Indonesia.

Kini di usia yang ke-53 tahun, Ma'hàd memiliki mahasiswa sekitar 5.500 orang. Mereka belajar di masjid dan ruang kelas sederhana di hamparan tanah subur di Lombok Timur. Dosen pengajarnya adalah Tuan Guru pilihan dan berkualitas, yang umumnya merupakan alumni Madrasah al-Shaulatiyyah Makkah.

Kegiatan di Anjani siang itu dihadiri lebih kurang 7 ribu jamaah, mulai dari orang tua santri yang menyaksikan penamatan anaknya, dirangkai tasyakuran dan silaturahmi para alumni dari seluruh Indonesia. Turut hadir Amid (Direktur) MDQH NW Tuan Guru Bajang Zainuddin Atsani, Ibu Hj. Siti Raihanun Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan, Mudir Madrasah Ash Shaulatiyyah Syaikh Majid Said Mas’ud Salim Rohmatulloh dari Arab Saudi.

“Saya sampaikan selamat kepada anak-anak yang telah di wisuda. Modal kalian selama berada di sini, telah didapatkan dengan luar biasa. Misi sosial Nahdlatul Wathan telah memberikan contoh, bagaimana menjalani peran sebagai makhluk sosial dan menjadi solusi,” pesan Moeldoko.

Hal yang penting menurut Moeldoko setelah ini bagaimana menjadi panutan yang baik di masyarakat. Bukan hanya memberi contoh tapi pandai menjadi contoh. Selain itu, generasi muda harus siap dengan inovasi dan perubahan yang terjadi. Mengembangkan skill dengan memanfaatkan teknologi.

“Jagalah bangsa ini melalui pengabdian dan dakwah. Saya yakin suatu saat nanti kalian akan menjadi pemimpin. Saya titip tiga hal, hormati orang tua, peduli kepada yatim piatu, dan jaga sholat Dhuha,” katanya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes