partner

partner

Quo Vadis Panca Bhakti? "Arah Politik Partai Golkar Pasca Pilpres 2019”



Jakarta, 13 April 2019, radarindonesia.com

Bangsa dan rakyat Indonesia tengah menghadapi pengkutuban ideologi yang berhadap-hadapan hampir 3 tahun terakhir, menguatnya sentimen politik identitas apakah itu mengatakan atas nama suku, agama dan ras diantara anak bangsa menjadi pembicaraan yang tidak ada ujung  pangkalnya.

Anak bangsa riuh rendah mengekspresikan  diri baik secara sosial maupun politik di ruang kebangsaan dengan menyatakan keberbedaan daripada kebersamaan, menuding daripada merenung dan keras alih-alih lemah lembut.

Apabila merujuk kepada sejarah bangsa kelahiran Golkar pada masa lalu persis pada saat situasi seperti ini, anak bangsa mengedepankan identitasnya sendiri-sendiri, mengklaim dirinya yang paling layak dan pantas dan menihilkan yang lain.

Pada saat itu ideologi Negara, dasar Negara Pancasila menjadi alat pembedaan alih-alih persamaan, Pancasila diklaim dengan tafsir berbeda-beda atas nama kepentingan kelompoknya sendiri sebuah masa krusial datangnya ancaman perpecahan anak bangsa dan rongrongan terhadap dasar negara Indonesia. Golkar lahir menengahi perseteruan ideologi, Golkar muncul sebagai pembela Pancasila, menjadi Garda terdepan menghalau para perongrong, membabat habis ideologi komunisme.

Kini, situasi bangsa hampir mirip suasananya, sudah merupakan panggilan mulia sejarah buat para kader Golkar menegakkan kembali ideologi Partai sebagai alasan utama untuk berada di tengah perseteruan ideologi sesama anak bangsa.



Lembaga Survey Voxpol menempatkan Golkar diurutan ke-3 dengan presentase 6.1%, Litbang Kompas 9.4%, &  Polmark 13.3%.

Surveyor Menggambarkan turunnya perolehan suara Partai Golkar. Sementara Litbang Kompas menyebutkan 47% Pemilih Golkar memutuskan untuk memilih Prabowo.

Selama kepengurusan periode 2014-2019 kepemimpinan DPP Partai Golkar terjadi turbulensi yang besar, mulai dari dualisme kepengurusan, sampai ditangkapnya Ketua Umum DPP PG Setya Novanto karena kasus E-KTP.

Belum lama kasus 'amplop' Bowo Sidik Pangarsa yang terkena OTT KPK.

Tentu gambaran dari para lembaga survey memunculkan kegelisahan dari para kader muda partai.

Mengapa ada kecenderungan turunnya perolehan suara Partai Golkar? Lalu apa yg seharusnya Partai Golkar lakukan pasca pemilu 2019?

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes