BUMI MEMBUTUHKAN BUAH-BUAHAN AGAR TIDAK BANJIR. KOK BISA?

 

Jakarta, 31 Januari 2026, radarindonesia.com

Ilmu Alam dan Teknologi

Oleh: Mahar Prastowo

 

Hujan sering dituduh sebagai biang bencana.
Begitu air turun deras, kata “banjir” langsung muncul di kepala.

 

Padahal hujan selalu sama sejak ribuan tahun lalu. Yang berubah justru cara bumi menampungnya. Di satu tempat, hujan berubah menjadi apel, pisang, padi, semangka, dan kurma. Di tempat lain, hujan berubah menjadi lumpur, longsor, dan air bah.

 

Baca juga: Banjir Datang Lagi
Pertanyaannya sederhana: apa yang membedakan keduanya?

Jawabannya juga sederhana, tapi sering diabaikan: tanaman dan buah-buahan.

 

Air yang Disimpan, Bukan Dibiarkan
Baca juga: Sajak Banjir di Bekasi
Al-Qur’an tidak pernah menyebut hujan sebagai peristiwa liar. Allah menegaskannya:

 

Kata menetap mengandung makna pengelolaan. Air tidak dibiarkan mengalir seenaknya. Sebagian air ditahan, disimpan, dan diubah bentuknya melalui mekanisme yang sangat rapi: tanah, akar, batang, daun, lalu buah.

 

Ayat lain memperjelas proses itu:

“Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Kami keluarkan berbagai macam buah-buahan.”
(QS. Fathir: 27)

 

Urutannya tegas. Air tidak langsung menjadi banjir. Ia diberi jalur agar menjadi pangan.
Buah-Buahan: Gudang Air yang Jarang Disadari

 

Ilmu pengetahuan modern menyebut tanaman sebagai bagian penting dari siklus air. Akar tanaman menyerap air tanah dan menyimpannya dalam jaringan hidup.

 

Hasilnya bisa kita lihat di meja makan:

Semangka mengandung sekitar 91 persen air
Jeruk sekitar 86–88 persen
Apel sekitar 85 persen
Pisang sekitar 74 persen
Kurma segar sekitar 70 persen
Setiap potong buah sejatinya adalah air hujan yang telah difilter oleh alam, diperkaya mineral, dan dikemas ulang untuk kebutuhan manusia.

Jika Tidak Ada Buah, Ke Mana Air Pergi?

 

Bayangkan hujan turun di tanah tanpa pepohonan dan tanaman produktif. Tidak ada akar yang menahan, tidak ada jaringan hidup yang menyimpan.

 

Air langsung meluncur di permukaan. Sungai menerima limpasan secara mendadak. Tanah terkikis, sedimen menumpuk, dan banjir datang lebih cepat dengan daya rusak lebih besar.

 

Inilah yang terjadi ketika siklus air kehilangan salah satu mata rantainya.

 

Al-Qur’an mengingatkan kondisi ini:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41)

Banjir sering kali bukan karena hujan berlebihan, tetapi karena bumi kehilangan kemampuannya menyimpan air.
Air yang Menjadi Pangan

Menariknya, air yang disimpan dalam buah tidak hanya aman, tetapi juga memberi energi. Rasulullah bersabda:

“Rumah yang tidak memiliki kurma, penghuninya akan lapar.”
(HR. Muslim)

 

Kurma adalah contoh paling sederhana bagaimana air, energi, dan nutrisi bertemu dalam satu ciptaan. Al-Qur’an menyebutnya sebagai thayyib: baik, bersih, dan menenteramkan.

 

Air Tidak Berubah, Kita yang Berubah

Air hujan selalu turun dari langit yang sama.
Yang berubah adalah apakah bumi masih punya tempat untuk menyimpannya.

Jika bumi hijau, air menjadi buah.
Jika bumi gundul, air menjadi banjir.

“Jika Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan air itu pahit. Maka mengapa kamu tidak bersyukur?”
(QS. Al-Waqi’ah: 70)

 

Mungkin, bentuk syukur paling konkret hari ini adalah menjaga pohon, menghargai buah, dan berhenti menyalahkan hujan.

 

Catatan Data Ilmiah (disarikan dari berbagai sumber)

Dalam ekosistem vegetasi sehat, sekitar 30–45 persen air hujan diserap oleh tanaman dan tanah bagian atas.
Sekitar 10–20 persen air hujan dapat tersimpan sementara dalam biomassa tanaman (batang, daun, buah).
Tanaman menurunkan limpasan permukaan (runoff) hingga 50 persen dibandingkan lahan gundul.
Kehilangan tutupan vegetasi dapat meningkatkan erosi tanah hingga 5–10 kali lipat.
Buah-buahan rata-rata mengandung 70–90 persen air, berasal dari air tanah yang diserap akar.

Ditulis di atas ranjang RSUD Budhi Asih Cawang Jakarta Timur. Ruang Cempaka Barat 705.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *